Harta Warisan : Definisi, Syarat, dan Sebab

Warisan tidak hanya terbatas pada hal-hal yang berkaitan dengan harta benda saja namun termasuk juga yang nonharta benda. Ayat al-Quran yang menyatakan demikian diantaranya terdapat dalam Q.S. an-Naml/27:16: “Dan Sulaiman telah mewarisi Daud.”

Menurut istilah, warisan adalah berpindahnya hak kepemilikan dari orang yang meninggal kepada ahli warisnya yang masih hidup, baik yang ditinggalkan berupa harta (uang), tanah, atau apa saja yang berupa hak milih legal secara syar’i.

Pengertian lain menyebutkan warisan adalah perpindahan kekayaan seseorang yang meninggal dunia kepada satu atau beberapa orang beserta akibat-akibat hukum dari kematian seseorang terhadap harta kekayaan.

Syarat-Syarat Mendapatkan Warisan

Setelah mengetahui definisi dari harta warisan, lantas bagaimana seorang muslim yang berhak mendapatkan warisan? Ada beberapa syarat-syarat yang harus dipenuhi.

  1. Tidak adanya salah satu penghalang dari penghalang-penghalang untuk mendapatkan warisan
  2. Kematian orang yang diwarisi, walaupun kematian tersebut berdasarkan vonis pengadilan. Misalnya hakim memutuskan bahwa orang yang hilan gitu dianggap telah meninggal dunia.
  3. Ahli waris hidup pada saat orang yang memberi warisan meninggal dunia. Jadi, jika seorang wanita mengandung bayi, kemudian salah seorang anaknya meninggal dunia, maka bayi tersebut berhak menerima warisan dari saudaranya yang meninggal itu, karena kehidupan janin telah terwujud pada saat kematian saudaranya terjadi.

Sebab-Sebab Menerima Harta Warisan

Seseorang mendapatkan warisan pasti ada sebabnya, salah satu dari beberapa sebabnya sebagai berikut.

  1. Keturunan (Nasab), yakni kerabat yaitu ahli waris yang terdiri dari bapak dari orang yang diwarisi atau anak-anaknya berserta jalur kesampingnya saudara-saudara beserta anak-anak mereka serta paman-paman dari jalur bapak beserta anak-anak mereka. Allah swt. berfirman dalam Q.S. an-Nisa/4:33 “Bagi tiap-tiap harta peninggalan dari harta yang ditinggalkan ibu bapak dan karib kerabat, Kami jadikan pewaris-pewarisnya…”
  2. Pernikahan, yaitu akad yang sah untuk menghalalkan berhubungan suami istri, walaupun suaminya belum menggaulinya serta belum berduaan dengannya. Allah swt. berfirman dalam Q.S an-Nisa/4:12 “Dan bagimu (suami-suami) seperdua dari harta yang ditinggalkan oleh istri-istrimu, jika mereka tidak mempunyai anak.” Suami istri dapat saling mewarisi dalam talak raj’i selama dalam masa idah dan ba’in, jika suami menalak istrinya ketika sedang sakit dan meninggal dunia karena sakitnya tersebut.
  3. Wala’, yaitu seseorang yang memerdekakan budak laki-laki atua budak wanita. Jika budak yang dimerdekakan meninggal dunia sedang ia tidak meninggalkan ahli waris, maka hartanya diwarisi oleh yang memerdekakannya itu. Rasulullah saw. bersabda, “… Wala’ itu milik orang yang memerdekakannya…” (HR. al-Bukhari dan Muslim)

Sebab-Sebab Tidak Menerima Harta Warisan

Ada yang menerima tentu juga ada yang tidak menerima, beberapa sebab yang menghalangi ahli waris menerima bagian warisan adalah sebagai berikut.

  1. Kekafiran. Kerabat yang muslim tidak dapat mewarisi kerabatnya yang kafir, dan orang yang kafir tidak dapat mewarisi kerabatnya yang muslim. Dari Usamah bin zaid radiallahu ‘anhuma, Rasulullah saw. bersabda: “Orang muslim tidak mewarisi orang kafir, dan orang kafir tidak mewarisi orang muslim.” (H.R. Bukhari).
  2. Pembunuhan. Jika pembunuhan dilakukan dengan sengaja, maka pembunuh tersebut tidak bisa mewarisi yang dibunuhnya, berdasarkan hadis Nabi saw. “Pembunuh tidak berhak mendapatkan apapun dari harta peninggalan orang yang dibunuhnya.” (H.R. Ibnu Abdil Bar)
  3. Perbudakan. Seorang budak tidak dapat mewarisi ataupun diwarisi, baiik budak secara utuh atuapun sebagiannya. Namun demikian sebagian ulama mengecualikan budak yang hanya sebagiannya dapat mewarisi dan diwarisi sesuai dengan tingkat kemeredekaan yang dimilikinya, berdasarkan sebuah hadis Rasulullah saw., yang artinya “Ia (seorang budak yang merdeka sebagiannya) berhak mewarisi dan diwarisi sesuai dengan kemerdekaan yang dimilikinya.”
  4. Perzinaan. Seorang anak yang terlahir dari hasil perzinaan tidak dapat diwarisi dan mewarisi bapaknya. Ia hanya dapat mewarisi dan diwarisi ibunya.
  5. Li’an. Anak suami istri yang melakukan li’an tidak dapat mewarisi dan diwarisi bapak yang tidak mengakuinya sebagia anaknya. Hal ini diqiyaskan dengan anak dari hasil perzinaan.

Kesimpulan

Warisan adalah perpindahan kekayaan seseorang yang meninggal dunia kepada satu atau beberapa orang beserta akibat-akibat hukum dari kematian seseorang terhadap harta kekayaan.

Syarat mendapatkan warisan yaitu tidak adanya penghalang dari penghalang-penghalang untuk mendapat warisan, kematian orang yang diwarisi, dan saat ahli waris hidup pada saat orang yang memberi warisan meninggal dunia.

Sebab menerima harta warisan yaitu keturunan (nasab), pernikahan, dan wala’. Sedangkan sebab tidak menerima harta warisan yaitu kekafiran, pembunuhan, perbudakan, perzinaan, dan li’an.

Share