Seni Peran

Designed by pch.vector / Freepik

Seni peran secara etimologis berasal dari kata “to act to” yang berarti berbuat, bertindak, melakukan atau berbuat menjadi atau berbuat seolah-olah menjadi di luar dirinya. Dari kata “to act” lahirlah istilah actor dan actris. Actor adalah pemeran, pelaku atau pemain untuk pria dan actris adalah penamaan untuk pemain wanita.

Teater tradisional maupun teter non tradisional (transisi, modern, dan komtemporeror) memiliki jenis dan bentuk pementasan yang khas. Kekhasan ragam teater tradisional dan ciri-ciri kehadiran seninya di setiap suku dan masyarakat Indonesia sangat berhubungan erat dengan kehidupan secara adat dan upacara yang mengantarkan pada pembahasan seni peran dalam teater tradisional.

Berdasarkan struktur pementasan teater tradisional, mulai dari pementasan musik dan tarian pembukaan, lawakan atau bodoran, babak drama atau lakon yang dibawakan sampai musik penutup dalam membawakan seni perannya dapat dibedakan menjadi tiga jenis (gaya). Seni peran dalam teater tradisional rakyat, menurut Sembung (1992:33) dapat dikategorikan dalam tiga jenis, yaitu : “seni epran kokikal, seni peran realistik, dan seni peran dengan gaya agung”.

Sumber : skanonym.blogspot.com

Seni peran gaya komikal biasanya hadir ketika pelawan mulai muncul atau tampil dalam adegan comic relief (bagian komik). Seni peran gaya realistik biasanya ditampilkan oleh pemeran lainnya dalam membawakan lakon bersumber kehidupan sehari-hari (sejarah) / realistik, sedangkan seni peran dengan gaya agung biasanya dilakukan pemeran dalam membawakan cerita atau lakon kerajaan (babad, mitologi, dst). Karena lakon yang dibawakan pada teater tradisional rakyat tidak berdasar pada naskah tertulis, tetapi garis besar cerita atau lakon (bagal, bedrip) maka setiap pemeran tidak menghafalkan dialog untuk kebutuhan pentas melainkan improvisasi.

Pementasan teater tradisional (rakyat dan istana), setiap pameran memiliki kemampuan ganda dalam membawakan seni peran. Disamping emmiliki keterampilan dalam gaya membawakan peran takoh lakon cerita, juga mereka terampil dalam bernyanyi, menari, memainkan, dan memahami iringan musik. Sebagai contoh, epran tokoh putih dan hitam (pendekar-penjahat) dalam pementasan teater rakyat sebelum menyampaikan dialog dengan membawa pesan cerita atau lakon selalu diawali dengan menari, bahkan di tengah-tengah adegan atau babak kadangkala mereka pun bernyanyi.

Dengan keterbatasan yang dihadapi dan ciri kesederhanaan yang nampak pada pementasan teater tradiisonal rakyat dari para pendukung dalam membawakan perannya pada lakon yang digelar, ternyata dengan sikap terus berulangnya satu cerita atau dalam kapasitas cerita yang terbatas akhirnya para pemainnya pun terlatih untuk mendalami dan menjiwai masing-masing peran dalam tipe casting (peran tetap) tertentu.

Seorang pemeran dalam pementasan teater rakyat dituntut tidak sekedar dapat berdialog melalui kata-kata atau gestur tubuh, tetapi harus memiliki kemampuan menari, menyanyi, menabuh, dan memahami iringan musik.

Seni peran dalam perkembangannya lebih populer dikenal dengan istilah seni acting. Seorang pemain dalam melakukan perannya dikenal dengan kata; aktor, aktris, pemain, tokoh, pameran dan seterusnya. Aktor, aktris, pemain, tokoh, pemeran merupakan inti atua unsur utama dalam seni peran. Oleh karenanya, tanpa kehadiran seorang pemain dalam pementasan tidak akan terjadi peristiwa pementasan seni. Namun, perlu diingat, dalam seni peran, baik teater tradisional maupun teater pengembangan atau teater modern agar terjadi komunikasi antar para pemain dan penontonnya. Ada beberapa hal unsur penting yang harus diketahui, antara lain sebagai berikut.

  1. adanya kerja keras, kerja sama yang baik antar pemain dan sutradara dalam membangun irama permainan dalam seni peran. Selain itu juga keterlibatan dengan beberapa unsur artistik pentas yang melingkupi tokoh dalam suatu adegan, babak atau disebut dengan kepekaan ruang dalam membangun atmosfir pementasan
  2. menghindari terjadinya kesalahan pemilihan tokoh atau miss casting dalam seni peran, sehingga terjadi over acting (akting yang berlebihan) atau under acting (akting dibawah standar, kurang ekspresifdari tuntutan peran yang dibawakan). Pemain, aktor, aktris yang baik adalah manusia kreatif yang selalu berinisiatif untuk mendadani dan menyempurnakan tubuhnya, mentalnya, sosialnya tanpa harus menunggu perintah orang lain, tetapi bersifat patuh atas arahan sutradara.
  3. adanya keberanian untuk mencoba dan gagal. Pada dasarnya suatu keberhasilan, kamu harus meyakini dari kegagalan. Itulah pentingnya suatu kegigihan dan kemauan yang keras perlu ditanamkan oleh kamu menuju keberhasilan yang diharapkan.
  4. Memiliki wawasan dan suka bergaul. Oleh karena itu, disyaratkan untuk gemar membaca, menonton pemetnasan dan harus peka terhadap kejadian sekitar dan isu-isu yang aktual untuk melatih ingatan dan emosi kamu sekaligus sebagai bahan apa yang akan dibicarakan dalam tematik cerita.
  5. Harus percaya diri, memiliki kesadaran potensi atas kelebihan dan kekurangan diri sendiri. Tidak sedikit orang di sekitar kita memiliki: kecantikan, ketampanna, jelek, pendek, jangkung atau postur tubuh tidak ideal, tidak menarik dan menjadi pusat perhatian orang lain. Akan tetapi dengan ketampanan, kecantikan di atas rata-rata atau di bawah rata-rata dan ditunjang dengan kemampuan lebih ddari dirinya menjadi luar biasa dalam bidang seni peran. Contohnya : Dude Herliona, Reza Rahardian, Angga Yunanda, dan masih banyak lagi.

Share